Ilustrasi fathu mekah

 

Khazanahalquran.com – Ada saat dimana para Nabi sampai pada puncak kejayaan mereka. Saat itu, kekuasaan berada ditangan mereka, kepala musuh tertunduk dihadapan kemuliaan mereka dan agama Allah berada pada posisi yang sebenarnya.

Seperti kisah Fathu Mekah yang diabadikan oleh Al-Qur’an dalam firman-Nya,

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ -١- وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً -٢-

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (An-Nashr 1-2)

Ayat suci ini ingin menggambarkan kemuliaan agung yang didapatkan oleh Rasulullah saw, yaitu:

  1. Pertolongan Allah
  2. Pembebasan Mekah
  3. Manusia berbondong-bondong masuk islam.

 

Waktu itu Rasulullah saw berada di puncak kejayaannya, kira-kira apa yang beliau lakukan ketika menerima nikmat yang begitu besar ini? Apa sikap beliau ketika sampai pada puncak kesuksesan yang luar biasa?   Jawabannya adalah lanjutan dari ayat diatas,

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً -٣-

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (An-Nashr 3)

 

Setelah berada di puncak kejayaan dan keberhasilan, Rasulullah saw sama sekali tidak membusungkan dada. Tidak ada raut kesombongan di wajahnya. Beliau hanya melakukan 4 hal:

  1. Mengucapkan Tasbih (Mensucikan Allah)
  2. Mengucapkan Tahmid (Memuji Allah)
  3. Mengucapkan Istighfar (Memohon Ampun kepada Allah)
  4. Bertaubat dan kembali pada-Nya

 

Begitulah sejarah para Nabi, setiap mereka sampai pada puncak kejayaan, kepala mereka tetap tertunduk dan melihat semua kesuksesan ini adalah nikmat dan pemberian Allah swt. Mereka tidak menganggap kejayaan dan kesuksesan itu adalah hasil dari kehebatan diri mereka.

Dalam sejarah disebutkan bahwa ketika Rasulullah memasuki kota mekah, beliau menundukkan wajahnya hingga menempel kepada punuk unta sambil berkata

صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ اَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Sungguh benar janji-Nya, Menolong hamba-Nya, Memuliakan pasukan-Nya dan Menghancurkan musuh-musuh-Nya”

 

Tengoklah Nabi Sulaiman as ketika puncak kekuasaan berada ditangannya. Dia bisa melihat Mahligai Balqis berpindah kehadapannya sekejap mata. Namun ia tidak menganggap itu kehebatan dari Kerajaannya, Nabi Sulaiman hanya berkomentar,

هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ –

“Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (An-Naml 40)

 

Lihatlah pada Nabi Yusuf as ketika berada pada puncak kejayaannya. Saat itu Mesir berada dalam genggaman tangannya. Tapi apa yang terucap dari lisan sucinya?

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنُيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ -١٠١-

“Tuhan-ku, sesungguhnya Engkau telah Menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah Mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (Yusuf 101)

 

Sebesar apapun jasa yang telah dilakukan para Nabi, mereka tak pernah menganggap diri mereka “melakukan sesuatu”. Semua kesuksesan dan kejayaan Agama Allah adalah berkah dan nikmat dari-Nya. Betapa agung nilai tawadhu’ dari para utusan Allah itu.

Komentar

LEAVE A REPLY