Khazanahalquran.com – Menjadi Da’i (pendakwah) sebenarnya bukan hal mudah. Tidak sembarang orang layak menjadi Da’i. Karena dakwah adalah tugas suci para nabi, sementara para Da’i adalah penerus tugas suci ini. Seorang Da’i adalah penerus lisan suci Nabi, karena masyarakat melihat mereka sebagai sosok yang menggambarkan agama islam.

Namun sayangnya, hari ini menjadi Da’i lebih mudah dari membuat SIM (Surat Izin Mengemudi). Siapapun bisa menjadi Dai, asal punya selera humor yang tinggi, menghafal beberapa ayat dan hadist dan menggunakan seragam tertentu. Rasulullah saw bersabda,

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat”

Semua orang bisa menjadi Da’i bahkan harus menjadi Da’i bagi dirinya dan sekitarnya untuk berbagi nasehat dan ilmu.

Tapi dibalik semua ini, ada poin yang terlewat. Banyak orang merasa punya kewajiban untuk berdakwah tapi dia tidak mempelajari bagaimana Syarat dan Bekal Dakwah yang diajarkan Allah pada para Nabi, khususnya Rasulullah saw.

Kali ini kita akan mempelajari apa saja syarat dan bekal seseorang yang ingin berdakwah?

Surat Al-Muddatsir ayat 3-7 akan mengajari kita bagaimana Allah Memberi bekal dakwah kepada Nabi Muhammad saw.

1. Agungkanlah Tuhanmu !

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

“Dan agungkanlah Tuhan-mu” (QS.Al-Muddatsir:3)

Dan hanya Allah yang diagungkan oleh para Da’i. Tidak ada yang agung dimata mereka selain Allah swt. Ayat ini mengandung makna Hasyr (hanya). Karena hanya Allah yang diagungkan maka tujuan yang diharapkan oleh seorang Da’i hanyalah keridhoan-Nya.

Jika masih memiliki tujuan lain seperti kedudukan dan kekayaan maka ia bukan seorang Da’i penerus tugas suci para Nabi.

 

2. Sucikan Pakaianmu !

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan bersihkanlah pakaianmu” (QS.Al-Muddatsir:4)

Setiap manusia memiliki dua pakaian dalam dirinya. Pakaian dhohir dan pakaian batin. Seorang Da’i harus mensucikan pakaian batinnya dengan Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Kenapa?

Karena ia akan menyampaikan hal-hal yang suci. Bagaimana seorang yang kotor akan berbicara dan menasehati dengan perkataan yang suci?

Selain itu, ia juga harus menjaga pakaian dhohirnya. Seorang Da’i harus berpenampilan rapi dan bersih.

 

3. Tinggalkan Perbuatan Keji !

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji.” (QS.Al-Muddatsir:5)

 

Memberi nasehat itu mudah tapi menjalankan nasehat bagi diri sendiri itu sulit. Seorang Da’i harus meninggalkan perbuatan keji karena agar jangan sampai apa yang ia sampaikan bertentangan dengan perbuatannya. Allah berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? (QS.Al-Baqarah:44)

 

Bahkan Allah Mengancam akan menampakkan Kemurkaan-Nya kepada orang yang menyampaikan kebaikan tapi melanggar perkataannya sendiri.

كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS.As-Shaff:3)

 

4. Jangan Mengharap Balasan dari Manusia

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS.Al-Muddatsir:6)

Bekal keempat ini adalah agar jangan memberi untuk menerima. Jangan pernah mengungkit apa yang telah kita berikan.

Kembali pada bekal pertama, kita hanya berharap balasan dari-Nya. Karena orang yang suka mengungkit kebaikannya akan timbul penyakit ujub, merasa banyak beramal.

Sementara Rasulullah saw selalu memberi contoh, sebanyak apapun yang telah kita lakukan di jalan Allah, hendaklah selalu merasa kurang dan belum melakukan apa-apa. Bukankah para Anbiya’ dengan semua yang telah mereka lakukan masih berdoa kepada Allah,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.Al-A’raf:23)

Bukankah Rasulullah saw pernah ditegur oleh salah satu istrinya karena beribadah hingga kakinya bengkak. Apa jawaban beliau?

“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”

 

5. Bersabarlah karen Tuhanmu !

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

Dan karena Tuhan-mu, bersabarlah. (QS.Al-Muddatsir:7)

Dakwah penuh tantangan dan rintangan. Kisah para Nabi telah menjelaskan bagaimana kesulitan yang mereka alami di masa dakwahnya. Menyampaikan kebenaran, merubah pola pikir dan melawan kedzaliman adalah usaha yang amat sulit.

Karena itulah, bekal terakhir untuk para Da’i adalah kesabaran. Dan akan kita temukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an bahwa setiap berbicara tentang dakwah, Allah selalu menggandengkannya dengan kesabaran.

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS.Al-Ashr:3)

 

Juga akan kita temukan wasiat Luqman kepada putranya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. (QS.Luqman:17)

Namun bekal terakhir ini memiliki poin penting yang harus dipegang oleh para Da’i. Mereka harus bersabar hanya untuk Allah bukan bersabar untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan karena Tuhan-mu, bersabarlah.

Komentar

LEAVE A REPLY