Khazanahalquran.com – Penderitaan terbesar dari orang tua adalah ketika kehilangan anaknya. Penderitaan ini dialami oleh Nabi Ya’qub as ketika kehilangan putra kesayangannya, Yusuf.

Rasa sakit yang ia derita begitu pedih karena dikhianati oleh anak-anaknya sendiri, hingga matanya memutih karena banyak menangis. Tapi Nabi Ya’qub bukanlah seorang yang pesimis. Walau matanya buta karena tangisan, beliau tetaplah optimis dan selalu berharap bisa bertemu kembali dengan Yusuf, putra tercintanya.

Optimisme Nabi Ya’qub terlihat jelas dalam kata-katanya yang diabadikan didalam Al-Qur’an. Di hari pertama beliau mendapat kabar hilangnya Yusuf, beliau hanya berkata,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ -١٨-

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf 18)

 

Waktu lama berselang, ketika Nabi Ya’qub harus melepaskan Benyamin, putranya yang baik bersama saudara-saudaranya yang pernah mencelakai Yusuf, beliau hanya berkata,

فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ -٦٤-

“Maka Allah adalah Penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf 64)

 

Sungguh berat bagi Nabi Ya’qub untuk mempercayakan Benyamin kepada saudara-saudaranya, namun beliau dengan penuh harapan menyerahkan segala urusan kepada Allah dan bertawakkal kepadanya.

اللّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ -٦٦-

 “Allah adalah Saksi terhadap apa yang kita ucapkan.” (Yusuf 66)

 

Dan ketika saudara-saudara Yusuf kembali pulang tanpa membawa Benyamin karena ia sedang tertahan oleh penguasa Mesir, orang tua yang telah kehilangan dua anaknya ini masih tetap optimis dan berkata,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعاً -٨٣-

“Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah Mendatangkan mereka semuanya kepadaku.” (Yusuf 83)

 

Harapan Nabi Ya’qub tak pernah padam, hampir 30 tahun beliau menanti pertemuan dengan Yusuf tapi tak mampu terwujud. Setelah melewati waktu yang begitu panjang ini, beliau tetap optimis dan berharap dengan mengirim anak-anaknya untuk mencari tau tentang keberadaan Yusuf dan saudaranya, Benyamin.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ -٨٧-

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (Yusuf 87)

 

Sungguh Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Berkat kesabaran, harapan dan rasa optimis yang tinggi, Nabi Ya’qub akhirnya dapat bertemu dengan putra yang selama ini ia rindukan. Begitu manis buah dari kesabaran beliau.

Tapi coba perhatikan, harapan dan optimisme dari Nabi Ya’qub bukan harapan kosong tanpa dasar. Rasa optimis itu dibangun dengan keyakinan kepada Allah swt. Nabi Ya’qub begitu yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya,

(وَاللّهُ الْمُسْتَعَانُ)

Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya

 

Beliau yakin bahwa tidak ada yang lebih Pengasih dan bisa menjaga seorang hamba melebihi Allah swt,

فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Maka Allah adalah Penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang

 

Beliau tidak pernah berputus asa kepada rahmat Allah dan memasrahkan segala urusannya kepada Sang Pencipta.

اللّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

 Allah adalah Saksi terhadap apa yang kita ucapkan

عَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعاً

Mudah-mudahan Allah Mendatangkan mereka semuanya kepadaku

فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ

Carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.

 

Karena itu, ketika putra-putra Ya’qub sudah bosan melihat kesedihan ayahnya yang tak kunjung mereda dan hanya akan membinasakan dirinya, Nabi Ya’qub hanya menjawab,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ -٨٦-

Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Yusuf 86)

Hari ini kita belajar tentang cara membangun optimisme dari Nabi Ya’qub. Optimis yang dibangun dengan hanya mengandalkan Allah, Dzat yang Maha Mampu serta Maha Penyayang. Sementara berharap kepada manusia hanya akan menyebabkan penyesalan dan kekecewaan. Karena manusia adalah makhluk yang serba kurang.

Tetaplah optimis wahai orang-orang yang beriman karena tidak ada yang putus asa kecuali orang-orang yang kafir.

Komentar

LEAVE A REPLY