Khazanahalquran.com – Manusia tercipta dari dua unsur. Unsur materi berupa jasad dan unsur non-materi berwujud ruh. Sebelumnya telah kita sepakati bahwa untuk menjadi bahagia, harus ada keseimbangan antara keinginan jasad dan keinginan ruh. Keduanya harus serasi dan tak saling bergesekan.

Bahagia Menurut Al-Qur’an

Allah berfirman,

يَوْمَ يَأْتِ لاَ تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

“Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia.”

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُواْ فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

“Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih”

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا

“Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) di dalam surga.” (QS.Huud:105,106,108)

 

Kata As-Sa’adah (Bahagia) hanya dibahas satu kali didalam Al-Qur’an, itupun berkaitan dengan surga. Seakan Allah ingin menjelaskan bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia, kebahagiaan hanya ada di surga. Kehidupan dunia hanya bisa memberikan potongan kecil dari kebahagiaan, itupun hanya didapat oleh orang-orang yang berperangai surgawi.

Dalam bahasa arab, ada yang disebut Mabni lil Ma’lum dan Mabni lil Majhul. Dua ayat diatas berbicara tentang orang yang sengsara dan orang yang bahagia.

Ketika membicarakan orang yang sengsara, ayat ini menggunakan Mabni Lil Ma’lum (jelas pelakunya) dengan kata شَقُواْ dan ketika bicara tentang orang yang bahagia menggunakan Mabni lil majhul (disembunyikan pelakunya) dengan kata سُعِدُواْ.

Apa rahasia dibalik penggunaan kata ini?

Dua ayat ini seakan ingin menjelaskan bahwa kesengsaraan itu dipilih sendiri oleh pelakunya sementara mereka yang bahagia itu sebenarnya “dibahagiakan” (dibimbing oleh Allah untuk meraih kebahagiaan). Karena kebahagiaan tidak akan didapat tanpa dekat dengan-Nya.

Dalam kitab Mufrodat Al-Qur’an disebutkan bahwa arti dari kata As-Sa’adah (kebahagiaan) adalah bantuan Allah terhadap seseorang untuk melakukan kebaikan. Artinya, bahagia menurut Al-Qur’an adalah melakukan sesuatu sesuai dengan jalur yang diridhoi Allah swt.

وَالْعَصْرِ -١- إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ -٢- إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ -٣-

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-Ashr 1-3)

 

Semua manusia berada dalam kerugian. Walau orang paling kaya, paling pintar, paling cantik bahkan paling berkuasa pun berada dalam kerugian. Kecuali yang melakukan 4 hal diatas. Dan itulah calon-calon penghuni surga yang akan mendapat percikan kebahagiaan di dunia.

Sekali lagi, kebahagiaan sesungguhnya hanya ada di surga. Tapi bukan berarti tidak ada kebahagiaan di dunia. Seseorang bisa mendapat percikan kebahagiaan di dunia jika ia berprilaku seperti calon penghuni surga. Sementara mereka yang berpaling dari Allah, pasti akan jauh dari kebahagiaan dan mengalami kehidupan yang sempit.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (Thaha 123)

 

Bukankah Ashabul Kahfi adalah orang-orang kaya yang memiliki jabatan di negrinya? Mereka rela bersembunyi di gua yang kecil untuk mempertahankan keimanan.

Dan di gua kecil itulah mereka merasakan puncak kebahagiaan yang selama ini belum mereka dapatkan. Tak perlu lagi istana yang megah, halaman yang luas dan harta yang melimpah. Gua yang gelap pun bisa menjadi sebab kebahagiaan seseorang, karena yang berada didalamnya selalu menghubungkan dirinya dengan surga.

Tanda-Tanda Kesengsaraan

Rasulullah saw bersabda, “Termasuk dari tanda-tanda kesengsaraan adalah :

  1. Keringnya air mata
  2. Kerasnya hati
  3. Terlalu sibuk mencari rezeki (hingga tidak memiliki waktu untuk keluarga, ibadah, dll)
  4. Terus menerus melakukan dosa.

 

Hingga akhirnya, jika kita ingin mencari kebahagiaan maka dekatilah orang yang paling bahagia. Dialah Rasulullah saw. Semakin kita mendekat kepadanya maka hati kita akan semakin terisi dengan kebahagiaan. Karena kebahagiaan tidaklah datang dari luar. Bahagia akan hadir dari dalam diri kita sendiri.

Sementara bagi mereka yang selalu mendekati Makhluk paling Terkutuk (Iblis) dengan perbuatan dosa, maka ia juga akan semakin sengsara dalam hidupnya. Kita akan tutup dengan perkataan indah dari Habib Ali Al-Habsyi, pengarang Simtud Dhuror (Maulid Nabi). Dengan Simpel beliau berkata tentang makna kebahagiaan,

انّاَ بِكَ نَسْعَدْ

“Hanya denganmu (Ya Rasulullah) kami berbahagia”

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY