Khazanahalquran.com – Tren sebelum turunnya Al-Qur’an di zaman Rasulullah saw adalah adalah saling membanggakan syair dan sastra. Syair terbaik akan dipajang di Ka’bah dan disaksikan semua orang. Hingga datangnya sebuah Kitab Mukjizat bernama Al-Qur’an.

Tentunya, sebagai mukjizat ia harus mengalahkan seluruh kitab dan tulisan yang ada di waktu itu. Mulai dari kandungan isinya sampai keindahan sastranya. Seketika Al-Qur’an menjadi yang terbaik dan tidak ada satu orang pun yang bisa membuat sepertinya.

Kali ini kita akan menengok kembali keindahan makna dan bahasa Kitab ini, Allah berfirman,

مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا -٨٥-

“Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (kebaikan)nya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (keburukan)nya.” (An-Nisa’ 85)

 

Al-Qur’an sering mengingatkan bahwa setiap kebaikan dan keburukan akan kembali kepada pelakunya. Ayat ini pun senada dengan penjelasan diatas, siapa yang memberi pertolongan dengan memberi kebaikan atau mengajak untuk berbuat baik maka ia akan mendapat bagian dari (kebaikan)nya, begitu pula sebaliknya.

Namun kita akan berhenti pada kata Nasibun (نَصِيبٌ) dan Kiflun (كِفْلٌ) yang sama-sama memiliki arti “bagian”. Mengapa ketika berbicara tentang pertolongan yang baik, Allah menggunakan kata Nasibun dan ketika berbicara tentang pertolongan yang buruk, Allah menggunakan kata Kiflun?

Walaupun memiliki arti yang sama, kata Nasibun dan Kiflun juga memiliki perbedaan. Kata Nasibun mengandung arti “tambahan” dan kata Kiflun mengandung arti “setara”. Jadi, bagian yang akan didapat dari pertolongan yang baik itu akan dilipat gandakan oleh Allah swt, sementara keburukan hanya akan dibalas dengan setimpal.

Sungguh Allah Maha Pengasih bagi seluruh hamba-Nya….

Komentar

LEAVE A REPLY