Keindahan Bahasa Al-Qur’an dalam Kisah Nabi Musa as

khazanahalquran.com – Kali ini kita akan mengkaji keindahan Al-Qur’an dari sisi bahasa. Setiap kata yang dipilih memiliki makna yang tepat dan sesuai.

Kita akan mengkaji fenomena pemilihan kata “ular” dalam kisah Nabi Musa as.

Pertama, Allah menggunakan kata حَيَّةٌ (ular yang tidak terlalu besar) ketika menunjukkan mukjizat tongkat itu kepada Nabi Musa sendiri. Karena saat itu Allah cukup menampakkan berubahnya tongkat menjadi ular walaupun tidak besar.

‎فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ

“Lalu dilemparkannya lah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.” (QS.Thaha:20)

Kedua, disaat Musa berhadapan dengan Fir’aun, Allah menggunakan kata ثُعْبَانٌ yang artinya “ular yang besar”. Untuk membuat Fir’aun takut dengan keagungan mukjizat tersebut.

‎فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ

Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (QS.Al-A’raf:107)

Ketiga, Allah tidak lagi menggunakan kata ular ketika Musa berhadapan dengan tukang sihir Fir’aun. Karena tongkat itu menelan semua benda-benda palsu yang digunakan oleh tukang sihir tersebut.

‎فَأَلْقَىٰ مُوسَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

“Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.” (QS.Asy-Syuara:45)

Itulah sekelumit tentang mukjizat Al-Qur’an dalam pemilihan kata yang begitu detail dan tepat sesuai kenyataan yang terjadi.

Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kita.

Komentar

LEAVE A REPLY