Khazanahalquran.com – Salah satu sifat buruk dari manusia adalah suka berbuat dzolim. Perbuatan ini muncul karena ia lupa dengan dirinya sebagai “manusia” sehingga muncul perangai keji yang sama sekali tidak manusiawi. Manusia mudah sekali berbuat dzolim padahal Allah swt selalu memberikan anugerah-Nya tanpa pernah Mendzolimi mereka.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS.Al-Ankabut:40)

Bukankah kita masih ingat bagaimana Firman Allah yang menceritakan sifat manusia sebagai penerima nikmat yang selalu melupakan kebaikan-Nya dan sering berbuat dzalim, sementara Allah sebagai Pemberi Nikmat selalu membuka pintu maaf bagi mereka.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS.Ibrahim:34)

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar- benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.An-Nahl:18)

Sebagai manusia, seharusnya kita malu melihat kebaikan Allah selalu turun sementara balasannya adalah dosa-dosa yang selalu naik. Bahkan, ada satu ayat Al-Qur’an yang patut kita renungi kali ini. Ayat ini adalah pukulan telak bagi orang-orang yang masih suka berbuat dzalim.

Ayat ini sedang bercerita tentang seorang sombong yang memiliki dua kebun yang rindang, Allah Menyifati kebun itu dalam Firman-Nya,

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئاً

“Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun.” (QS.Al-Kahf:33)

Jika kita perhatikan, pada akhir ayat ini Allah menggunakan kata “tidak dzalim” yang dimaknai dengan tidak berkurang buah sedikitpun. Maksudnya, Allah Ingin Menjelaskan bahwa kebun itu saja tidak mendzalimi pemiliknya, ia terus menghasilkan buah tanpa berkurang sedikitpun. Namun ketika bercerita tentang pemilik kebun, Allah Berfirman,

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَذِهِ أَبَداً

Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri (karena angkuh dan kafir); dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”(QS.Al-Kahf:35)

Coba bayangkan, kebun saja tidak mendzalimi pemiliknya tapi si pemilik itu yang berbuat dzalim pada dirinya sendiri. Bahkan setelah itu, ia juga menyakiti hati orang miskin dengan menyombongkan apa yang ia miliki. Lalu apakah manusia tidak malu jika dibandingkan dengan sebuah kebun ?Apalagi perbuatannya jauh lebih hina dari kebun itu.

Disaat Allah Memberi anugerah dengan kebun yang tak pernah mendzaliminya, ia justru mendzalimi dirinya sendiri dan melukai hati orang lain. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lupa diri dan berperangai keji.

Komentar

LEAVE A REPLY