Khazanahalquran.com – Tentu kita tak asing dengan nama Luqman Al-Hakim. Ia adalah seorang yang namanya diabadikan didalam Al-Qur’an. Seorang hamba telah diberi hikmah (kebijaksanaan) oleh Allah swt.

Para ahli tafsir pun berselisih dalam memaknai arti hikmah (kebijaksanaan) tersebut. Namun hampir semua sepakat bahwa kebijaksanaan adalah ilmu atau kemampuan yang diberikan kepada seseorang yang telah mampu mengalahkan hawa nafsu dan mampu membersihkan jiwanya.

Maka dengan usaha tersebut, Allah Memberikan sesuatu yang agung kepadanya.

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Dia Memberikan hikmah kepada siapa yang Dia Kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS.al-Baqarah:262)

 

Begitu pula ketika ingin menceritakan wasiat Luqman kepada putranya, Allah Memulai Firman-Nya dengan memperkenalkan sosok Luqman Al-Hakim,

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ

Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, maka “Bersyukurlah kepada Allah!” (QS.Luqman:12)

Dalam ayat ini, pemberian hikmah kepada Luqman langsung digandeng dengan perintah untuk bersyukur. Hal ini menunjukkan begitu besarnya pemberian tersebut.

 

10 Wasiat Luqman Kepada Putranya

Setelah sedikit mengenal kemuliaan Luqman Al-Hakim, kita akan mengambil pelajaran dari wasiat-wasiat beliau kepada putranya. Tentunya, wasiat-wasiat itu begitu berharga hingga diabadikan oleh Allah didalam Al-Qur’an.

Apa saja wasiat itu?

 

  1. Jangan menyekutukan Allah.

Wasiat pertama adalah berkaitan dengan pengokohan aqidah dan tauhid. Luqman berkata,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS.Luqman:13)

Menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar karena ia telah memposisikan sesuatu bukan pada tempatnya.

Segala sesuatu membutuhkan pondasi. Dan pondasi pertama yang harus dibangun dalam hidup kita adalah tauhid dan Meng-esakan Allah swt. Karena dengan bersandar kepada-Nya, kita akan memiliki kekuatan dan kestabilan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Menyekutukan Allah memiliki arti yang luas. Tidak hanya dengan menyembah berhala atau tuhan selain-Nya. Ayat ini juga memberi pelajaran agar kita tidak bergantung kepada selain Allah swt. Dan agar kita tidak mengandalkan selain-Nya dalam menyelesaikan berbagai problem dalam hidup.

 

  1. Sadarlah, Allah selalu Melihatmu.

Hendaknya kita selalu sadar bahwa setiap perkataan, perbuatan dan semua gerak-gerik kita selalu dalam pandangan Allah swt. Luqman berkata,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan Memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti.” (QS.Luqman:16)

Sekecil apapun perbuatan pasti akan dipertanggung jawabkan. Maka sebelum melangkah, kita harus tanyakan kepada diri, apakah kita siap mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah swt ?

Jika ada seorang yang sangat berjasa dalam hidup kita, tentu kita merasa malu untuk berbuat buruk dihadapannya. Lalu mengapa kita tidak malu ketika berbuat sesuatu yang hina dihadapan Allah swt? Bukankah semua yang kita miliki adalah pemberian dari-Nya? Bukankah Dia yang paling berjasa dalam hidup kita?

 

Dua wasiat ini adalah pondasi terpenting dalam kehidupan kita. Jangan menyekutukan Allah dan ingatlah bahwa Dia selalu Melihatmu. Dan dengan meyakini keduanya, kita akan lebih tenang dalam menjalani hidup dan lebih waspada dalam melakukan sesuatu.

Setelah menyebutkan 2 pondasi ini, Luqman melanjutkan wasiatnya tentang amal perbuatan. Apa saja wasiat-wasiat itu?

Simak kelanjutannya esok hari dalam Mengkaji Wasiat Luqman Al-Hakim dalam Al-Qur’an (bag 2)

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY