Khazanahalquran.com – Masih berkaitan tentang akhlak, semua orang pasti ingin dihormati dan dihargai. Sebagian memilih jalan senyuman dan akhlak untuk meraih respect dari orang sekitarnya. Sebagian yang lain membuang senyumnya, mengeraskan suaranya, menyeramkan wajahnya agar ia ditakuti dan dihormati. Ia tampil dengan ­sesangar-sangarnya agar tidak ada yang berani membantah atau melawannya. Semua harus tunduk dan menuruti keinginannya.

Rasul pun bersabda mengenai tipe manusia seperti ini, beliau bersabda,

“Umatku yang paling celaka adalah orang yang dihormati karena orang lain takut kepadanya.”

 

Tak perlu wajah seram untuk dihormati. Sebelumnya kita telah melihat bahwa salah satu keuntungan dari akhlak yang baik bukan hanya memperoleh penghormatan saja, tapi bisa menumbuhkan cinta dan kasih sayang. Seperti kisah Rasulullah yang merubah kebencian seseorang pada dirinya hanya dengan kebaikan akhlaknya.

Sebagian bertanya, “Tapi ini telah menjadi watak dan karakter saya? Sudah dari dulu watak saya keras, mudah marah dan sulit berlemah-lembut. Ini sudah bawaan dari kecil dan tidak bisa dirubah.”

Kita akan jawab, “Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dirubah !” Dalam tubuh kita ada organ yang bergerak secara otomatis dan diluar kendali kita. Seperti detak jantung yang memompa darah dan perut yang mencerna makanan.

Tapi ada pula organ yang bisa kita kendalikan. Seperti menggerakkan tangan dan kaki. Watak dan karakter sebenarnya berada dalam kendali kita. Tapi karena sudah tertanam dan menjadi kebiasaan, akhirnya susah untuk dirubah. Tapi ingat, tidak ada yang tidak bisa dirubah. Rasul pun bersabda,

“Sesungguhnya ilmu didapat dengan belajar, kelembutan didapat dengan berlatih melembutkan diri dan kesabaran didapat dengan berlatih untuk bersabar.”

 

Jika hewan liar saja bisa dilatih untuk menjadi jinak dan pintar apalagi manusia yang memiliki akal dan hati. Jika manusia tidak bisa berubah maka perintah dan larangan Allah akan sia-sia, karena Allah tidak akan memberi sesuatu diluar batas kemampuan hamba-Nya.

Perintah dan larangan adalah sarana untuk membiasakan diri kita selalu berada di jalur yang tepat. Untuk melatih diri ber-akhlak kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada sesama. Karena tanpa akhlak, segala amal perbuatan kita akan luntur tak berarti.

“Sungguh akhlak yang buruk itu merusak amal seperti cuka merusak madu” (Rasulullah saw)

 

Akhlak Siapa yang harus kita tiru?

Kita telah mengetahui pentingnya membina akhlak, lalu akhlak siapa yang seharusnya kita tiru?

1. Akhlak Allah

Rasulullah saw bersabda,

“Ber-akhlak lah dengan Akhlak Allah”

Bagaimana cara mengetahui Akhlak Allah? Dengan melihat kepada sifat-sifat-Nya, bagaimana Dia Memperlakukan hamba-Nya, bagaimana Dia Membalas kebaikan, Memaafkan kesalahan dan sifat-sifat lainnya yang penuh dengan keindahan.

 

2. Akhlak Al-Qur’an

Coba lihatlah kepada Al-Qur’an, sebuah buku pedoman akhlak terbaik sepanjang masa. Sebagaimana yang ditampilkan dengan sempurna oleh manusia dengan puncak kesempurnaan akhlak. Tiada lain adalah Nabi Muhammad saw. Karena akhlak beliau adalah akhlak Al-Qur’an

 

3. Akhlak Rasulullah saw Rasul bersabda,

“Aku dididik oleh Tuhanku dan itulah sebaik-baik didikan.”

Seringlah membaca sejarah dan pesan-pesan Rasulullah saw, maka akan kita temukan keindahan budi pekerti yang tak pernah kita bayangkan. Sungguh islam tersebar karena kelembutan hati beliau.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ -١٥٩-

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Ali Imran 159)

Islam adalah akhlak dan akhlak adalah islam. Semoga kita mampu melatih diri kita untuk bergabung bersama golongan orang-orang yang ber-akhlak mulia. Karena Rasul bersabda,

“Bukan bagian dari kami siapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.”

Jika bukan termasuk golongan Rasulullah ? Akan ikut golongan siapa?

Komentar

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY