Khazanahalquran.com – Doa adalah cara seorang hamba bercengkrama dengan tuhannya. Melalui doa, makhluk yang lemah ini mengadu, meminta dan memohon kepada Dzat yang telah Menciptakannya. Doa adalah bukti kesadaran bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa seizin-Nya.

Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti kenapa harus berdoa. Selama ini doa hanya menjadi solusi terakhir untuk semua masalah kita. Selagi masih bisa diatasi kenapa harus berdoa?

Terkadang kita menganggap doa adalah opsi kedua. Jika masih bisa berusaha, jika masih ada yang membantu, buat apa berdoa? Doa hanyalah pilihan terakhir setelah kita sudah mentok dan tidak punya jalan lagi.

Sadar atau tidak, kita sering berpikir seperti ini. Padahal doa itu memiliki peran yang dahsyat dalam hidup kita. Tanpa adanya doa, kita akan menjadi orang yang paling cepat putus asa dan menjadi orang yang paling dibenci Allah. Karena orang yang enggan berdoa telah sombong dihadapan-Nya dan menganggap kemampuannya sudah cukup untuk meraih segala sesuatu.

Doa Adalah Langkah Pertama

Allah memang menciptakan hukum sebab akibat di alam ini. Siapa yang berusaha pasti akan mendapatkan hasilnya. Namun pernahkah kita berpikir, berapa kali rencana matang yang sudah kita siapkan tiba-tiba gagal dan menelan kerugian?

Orang yang tidak mengenal doa akan mudah frustasi dan putus asa karena ia menganggap semua jalan telah ia lalui tapi masih saja tidak berhasil. Dia lupa bahwa tidak ada di alam ini yang bisa mewujudkan sesuatu yang kita harapkan kecuali Allah swt.

Sementara orang mukmin, dari awal telah meyakini bahwa semua yang terjadi di alam ini bergantung pada izin Allah swt. Langkah pertamanya adalah pasrah dan berdoa kepada Allah untuk mewujudkan harapannya. Dia sangat yakin bahwa Allah pasti mengabulkan jika itu baik untuk dirinya. Tidak ada kesempatan bagi frustasi dan putus asa untuk masuk ke dalam hatinya.

وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS.Yusuf:87)

Coba perhatikan, adakah makhluk yang lebih mulia dari Rasulullah saw? Adakah yang memiliki keutamaan melebihi beliau?

Allah telah memberikan segalanya kepada beliau. Rasul mampu melihat kebelakang. Pohon dan bebatuan mengucap salam kepadanya. Kerikil pun bertasbih ditangannya. Jarinya mampu mengeluarkan air untuk umatnya. Segala sesuatu telah diberikan Allah kepadanya. Namun ketika duduk bersimpuh dihadapan Tuhannya, beliau hanya berkata,

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ

Katakanlah (Muhammad), ”Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang Dikehendaki Allah.” (QS.Al-A’raf:188)

Jika seorang yang memiliki segala sesuatu saja berkata seperti ini, adakah yang masih merasa mampu melakukan sesuatu tanpa perlu berdoa kepada Allah swt? Adakah yang masih menganggap doa adalah langkah terakhir ketika sudah terjepit?

Seorang mukmin seharusnya menjadikan doa sebagai langkah pertamanya. Setiap akan melangkah ia berdoa, “Ya Allah, tidak ada yang mampu menyelesaikan urusanku selain Engkau, maka bantulah aku dan kabulkan doaku”

Jika kita masih mengandalkan kemampuan diri kita saja, maka jangan heran jika banyak kegagalan yang menanti. Karena semua yang terjadi adalah kehendak-Nya.

Aku Dekat !

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS.Al-Baqarah:186)

   

(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ) Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.

Ada 13 pertanyaan yang direkam dalam Al-Qur’an. Dan ketika hendak menjawab pertanyaan itu, Allah selalu menggunakan perantara Rasulullah saw untuk menjawabnya. Seperti firman-Nya,

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” (QS.Al-Baqarah:219)

Ketika hendak menjawab pertanyaan para sahabat Nabi, Allah menggunakan kalimat “maka katakanlah (Wahai Muhammad)”. Allah tidak menjawabnya langsung namun melalui perantara Baginda Rasulullah saw.

Namun pada ayat yang berbicara tentang doa, Allah berfirman, Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Allah langsung menjawabnya tanpa melalui perantara Nabi. Tidak ada lagi perintah Katakanlah (Wahai Muhammad)” untuk menjawab pertanyaan ini.

Allah sendiri yang langsung menjawabnya, seakan ingin menjelaskan bahwa tidak ada hijab dan penghalang antara Allah dengan hamba-Nya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي (Dan apabila hamba-hamba-Ku) Allah memulai ayat ini dengan kata-kata mesra yang memanjakan hamba-hamba-Nya. Dengan lembut Allah menyebut hamba-Ku yang dinisbatkan langsung pada Dzat-Nya yang Maha Suci.

فَإِنِّي قَرِيبٌ (Maka sesungguhnya Aku dekat) Saat Allah menjelaskan kedekatannya kepada hamba-Nya, Allah menggunakan banyak Ta’kid (penekanan) yaitu dengan menggunakan Inna dan tidak menggunakan Fi’il (kata kerja) pada kalimat “dekat”. Penekanan ini menujukkan begitu dekatnya Allah dengan para hamba-Nya.

إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Sesungguhnya Tuhan-ku sangat dekat dan Mengabulkan (doa hamba-Nya).” (QS.Huud:61)

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Seakan Allah ingin berkata,

“Hai hamba-Ku, janganlah engkau bertanya dimana Aku. Dimanapun kau berada, disitulah Aku bersamamu. Aku adalah dzat yang paling dekat denganmu”

 

Bahkan ketika ada seseorang yang sedang sakarotul maut, para keluarga dan kerabat berkumpul di samping ranjangnya, Allah hanya berfirman,

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian, tetapi kalian tidak melihat.” (QS.Al-Waqi’ah:85)

 

Memang tidak ada pemisah antara Allah dengan hamba-Nya, namun pada ayat ini Allah berkhitob kepada Rasulullah saw untuk menegaskan bahwa beliau adalah pemimpin umat ini. Dan alangkah baiknya ketika ingin mengetuk pintu Allah, kita melalui makhluk yang paling dicintai Allah ini.

Seperti dalam ayat lain yang mengajarkan bahwa ketika seorang hamba ingin mendapat ampunan dari Allah swt, maka ia harus melalui kekasih-Nya terlebih dahulu.

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً

“Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya (berbuat dosa) datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS.An-Nisa’:64)

 

Melihat kedekatan Allah kepada hamba-Nya, apakah semua doa akan diterima? Apakah ada syarat terkabulnya doa? Bagaimana cara berdoa yang benar? Simak kelanjutannya di Rahasia Doa (Bag 2)

Komentar

LEAVE A REPLY