Khazanahalquran.com – Sesuatu yang paling sering dilupakan manusia adalah bahwa sebenarnya ia tidak memiliki apapun. Bahkan manusia bergantung total dan selalu membutuhkan bantuan Allah swt. Bayangkan, untuk mengendalikan detak jantungnya saja ia tidak mampu?

Untuk menyadarkan kelalaian ini, Allah Berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.(QS.Fathir:15)

Disaat Allah Memanggil manusia “Wahai manusia…”, bukan berarti Allah Membutuhkan mereka. Tapi sebenarnya manusia yang sangat membutuhkan bantuan-Nya. Panggilan ini adalah salah satu cara untuk menyadarkan mereka dari hayalan kesombongan dan bangga diri. Agar mereka segera sadar dengan kelemahan, kebodohan serta kebutuhannya kepada Sang Pemilik langit dan bumi.

Adapun pelajaran yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah :

1. Semua makhluk secara keseluruhan butuh kepada Allah Yang Maha Kaya. “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah.”

2. Seluruh keberadaan ini sebenarnya faqir (butuh kepada Allah), namun karena manusia itu mudah tergoda dan tertipu maka ayat ini ditujukan langsung kepada manusia. Wahai manusia!..”

3. Memang segala sesuatu membutuhkan sebab dan perantara untuk dapat terjadi, namun semua sebab itu seluruhnya butuh kepada Allah swt. “Dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu).”

4. Sang Maha Kaya yang hakiki, yang sempurna dan tidak memerlukan apapun hanyalah Allah swt. “Dia-lah Yang Maha Kaya.”

5. Orang-orang kaya biasanya tidak disukai. Ia hidup dalam rasa takut karena banyak yang mengincar hartanya. Dan tak sedikit pula yang menyimpan iri dan dengki kepadanya. Namun tidak dengan Allah swt, Dia lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. “Dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.”

6. Allah Menjadikan Kekayaan-Nya untuk memenuhi kebutuhan ciptaan-Nya, karena itulah Dia selalu terpuji. “Dia-lah Yang Maha Kaya, Maha Terpuji.”

Semoga kita selalu sadar bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali miliki Allah swt. Sehingga tidak ada lagi sifat sombong dan bangga diri, karena untuk bernafas pun kita masih bergantung kepada udara pemberian Allah swt.

Komentar

LEAVE A REPLY