Khazanahalquran.com – Salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah hidup Nabi Ibrahim adalah kesabarannya dalam menanti anak. Bertaun-taun Ibrahim berdoa meminta keturunan kepada Allah swt dengan penuh ketabahan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ -١٠٠-

“Ya Tuhan-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Ash-Shaffat 100)

 

Usia Ibrahim semakin lanjut, namun ia belum juga dikaruniai anak. Hingga pada suatu saat, datanglah kabar gembira bahwa istrinya telah mengandung. Ibrahim begitu gembira mendengar doanya dikabulkan oleh Allah swt.

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ -١٠١-

“Maka Kami Beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Isma‘il).” (Ash-Shaffat 101)

 

Tidak berselang lama setelah kegembiraannya mendapat anak, Ibrahim mendapat perintah untuk membawa anaknya ke tempat yang paling gersang dan meninggalkannya disana. Dengan penuh kesabaran ia rela berpisah dengan anak yang ia nantikan bertahun-tahun untuk memenuhi perintah Allah swt.

Dan disinilah kita mendengar kisah Siti hajar yang berlari antara bukit gersang Shofa dan Marwah untuk mencari air untuk bayi Ismail.

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ -٣٧-

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.” (Ibrahim 37)

 

Tahun terus berganti hingga Ismail beranjak dewasa. Allah telah mengizinkan Ibrahim kembali dari perjuangan dakwahnya untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Ibrahim kembali merasakan masa-masa bahagia bersama putra tersayangnya.

Tapi tak lama kemudian, ia mendapat perintah Allah berupa mimpi yang sangat menyedihkan. Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri. Sungguh, betapa berat ujian seorang ayah yang harus menyembelih anak tercintanya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ -١٠٢-

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Ash-Shaffat 102)

 

Namun semua ini mudah bagi Ibrahim. Karena yang memerintahkannya adalah Sang Kekasih. Hatinya telah dipenuhi dengan kecintaan kepada-Nya. Seberat apapun perintah yang ia dapatkan, semuanya akan tampak ringan karena cinta telah memberi kekuatan.

Dan coba lihat pada Ismail. Seorang anak yang mendukung ayahnya untuk taat walau nyawa adalah taruhannya. Inilah wujud anak sholeh yang sebenarnya, sesuai dengan doa Ibrahim ketika meminta keturunan.

Pada akhirnya, Ibrahim telah membuktikan bahwa tidak ada sesuatu di hatinya kecuali kecintaan kepada Allah swt. Semua yang ia miliki telah ia korbankan demi kesetiaan kepada-Nya.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ -١٠٣- وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ -١٠٤- قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ -١٠٥- إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ -١٠٦- وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ -١٠٧-

“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya. Lalu Kami Panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami Memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami Tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat 103-107)

 

Allah Selamatkan Ismail dan menggantinya dengan seekor kambing. Karena mustahil ia akan dipenggal karena dari sulbinya akan lahir Nabi terakhir, Muhammad saw.

Kisah singkat ini memberi kita pelajaran berharga tentang kekuatan cinta. Cinta adalah power yang bisa mengalahkan logika. Wanita yang lemah bisa menjadi singa yang menakutkan demi putranya. Dan bayangkan berapa besar cinta Ibrahim kepada Tuhannya, hingga Allah memberi gelar Kholilullah (kekasih Allah) kepadanya.

Bukankah agama ini hanyalah cinta?

(Imam Ja’far As-Shodiq)

Komentar

LEAVE A REPLY