Khazanahalquran.com – Dunia terus berputar, waktu terus berjalan. Seakan kemilau bulan Ramadhan baru kemarin datang, sebentar lagi akan segera pergi. Entah berapa Ramadhan telah kita lalui, berapa malam laylatul qodar yang telah kita lewati, namun tersisa satu pertanyaan dalam diri,

“Adakah yang bertambah dari diri kita?”

Setiap tahun kita tutup bulan Ramadhan dengan Hari Kemenangan, semua yang kita pakai serba baru. Tapi pernah kah kita bertanya, apakah jiwa kita juga baru? Apakah Ramadhan kali ini memberikan perubahan? Apakah taun ini lebih baik dari taun kemarin?

Hari-hari yang kita lalui adalah perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan ini adalah Tour Bisnis yang butuh pada keseriusan. Akal diibaratkan sebagai pedagang, umur adalah modal dan jiwa berperan sebagai pekerja. Seorang pedagang tidak bisa memberi wewenang sepenuhnya kepada pekerjanya. Ia harus memberi syarat, selalu memantau dan membuat perhitungan untung rugi.

Begitu juga dengan akal. Akal tidak bisa melepas kerja jiwa sepenuhnya. Akal harus memberi syarat, memantau dan membuat perhitungan. Jika tidak, akal tidak tau apakah selama ini pekerjaan jiwa semakin meningkat atau malah menurun dan rugi. Dalam bahasa islam disebut Menghisab Diri. Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS.Al-Hasyr:18)

 

Masa Depan Manusia

Manusia selalu memikirkan masa depannya. Memikirkan masa tua, kondisi anak-anak dan keluarganya. Segala sesuatu dilakukan untuk mempersiapkan masa ini. Namun sayang, masa depan dalam pikiran mereka begitu singkat. Sebagian manusia menganggap masa depan hanya sebatas masa tua. Padahal, masa tua bukanlah masa kehidupan yang terakhir. Masih ada perjalanan panjang setelah melalui pintu kematian. Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)

Kenapa manusia diperintahkan untuk memperhatikan masa depannya di akhirat? Karena ternyata, tidak ada satu langkah pun yang terlewat. Semua perbuatan dari yang terkecil sampai yang terbesar telah tercatat rapi dalam buku cacatan amal. Dalam diri manusia telah tertanam chip yang merekam semua langkah dan perbuatannya. Allah berfirman,

وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَآئِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَاباً يَلْقَاهُ مَنشُوراً

“Dan setiap manusia telah Kami Kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami Keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.” (QS.Al-Isra’:13)

Dan kesempatan untuk menambah, menghapus dan memperbaiki buku catatan kita hanyalah di dunia. Karena setelah berpindah ke alam setelahnya, manusia hanya bisa berkata,

يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا

“Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” (QS.Al-Kahfi:49)

 

Menghisab Diri

Islam mengajak kita untuk Menghisab Diri sebelum dihisab di Mahkamah Allah swt. Menghisab diri adalah mengingat apa saja yang telah kita lakukan. Berapa banyak dosa yang kita kerjakan. Mengingat apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin atau malah sebaliknya. Mengingat satu demi satu langkah yang telah kita ambil. Untuk memperbaiki dan meminta ampunan dari Allah swt.

Rasulullah saw bersabda,

“Seorang hamba belum menjadi mukmin jika dia belum Menghisab Dirinya lebih teliti dari seorang yang melakukan perhitungan dengan partner kerjanya dan seorang majikan dengan budaknya.”

 

Kenapa kita harus menghisab diri? Rasul saw pernah berwasiat kepada Abu Dzar,

“Wahai Abu Dzar, hisablah dirimu sebelum engkau dihisab (di akhirat) karena itu akan mempermudah hisabmu nanti.”

Dengan sering menghisab diri, akan memudahkan kita dalam menghadapi hisab di Hari Kiamat. Karena dihisab langsung oleh Allah juga termasuk siksaan yang dahsyat. Bagaimana kita akan membayangkan seorang hamba yang hina diadili dihadapan Rabbul Alamin?

Semua manusia memang akan menghadap Allah swt, tapi jauh sebelumnya Allah selalu mengingatkan, Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)

Kehidupan bagaikan perniagaan. Sebagai pedagang kita harus sering menghitung keuntungan dan kerugian, memperhatikan langkah yang telah kita lakukan agar jangan sampai terjebak dalam kerugian yang besar.

“Wahai Abu Dzar, timbanglah dirimu sebelum (amalmu) ditimbang. Dan bersiaplah untuk hari disaat tiada yang tersembunyi antara engkau dan Allah swt.”

 

Menghisab diri akan membuat jiwa yang lalai ini tersadar kembali. Jiwa yang merasa telah berbuat banyak, nyatanya hanya sedikit. Jiwa yang merasa tak memiliki dosa, ternyata menyimpan banyak aib. Dengan menghitung satu demi satu amal kita, maka akan mudah untuk memperbaiki diri dan meminta ampun kepada Allah.

Rasulullah saw bertanya pada sahabatnya, “Apakah kalian mau aku tunjukkan orang yang paling cerdas dan orang yang paling dungu?”

“Iya wahai Rasulullah.” kata mereka.

Rasul menjawab, “Orang yang paling cerdas adalah mereka yang menghisab dirinya dan berbuat untuk (kehidupan) setelah kematiannya. Dan orang paling dungu adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan tentang Allah swt.”

Mulailah menghitung diri dari sekarang karena tidak ada yang tau kapan ajal akan tiba,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS.Luqman:34)

 

Imam Ja’far As-Shodiq, Guru Imam Madzhab Maliki dan Hanafi pernah berpesan,

“Ketika engkau berbaring diatas tempat tidurmu, ingatlah apa yang telah kau masukkan kedalam perutmu. Dan ingatlah apa yang telah kau lakukan hari ini. Dan ingatlah bahwa engkau adalah mayat dan akan ada Hari Kebangkitan.”

 

Mari Berhitung ! Kita akan melakukan latihan singkat tetang cara Menghisab Diri.

  1. Siapkan 3 kertas kosong dihadapan kita.
  2. Tuliskan semua nikmat Allah yang kita rasakan pada kertas pertama. (Mustahil menghitung semua nikmat Allah, tapi tulislah semampunya).
  3. Tuliskan dosa-dosa yang pernah kita lakukan pada kertas kedua.
  4. Tuliskan hal-hal yang terlewatkan yang seharusnya bisa menjadi keuntungan yang besar di akhirat.

Setelah semuanya tertulis, tanyakan pada diri kita Sudahkah kita mensyukuri nikmat Allah? Sudahkah kita memohon ampun atas dosa-dosa kita? Sampai kapan kita akan mensia-siakan waktu yang tak akan kembali ini?

Imam Ali bin Abi tholib pernah berwasiat kepada putranya Al-Hasan, “Seorang Mukmin memiliki 3 waktu dalam hidupnya,

  1. Waktu untuk bermunajat kepada tuhannya.
  2. Waktu untuk menghisab dirinya.
  3. waktu untuk menikmati kenikmatan yang dihalalkan untuknya.

Mulailah menghitung diri dan raihlah kemenangan sesungguhnya di Hari Iedul Fitri.

Khazanah Al-Qur’an mengucapkan selamat hari raya Iedul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Komentar

4 KOMENTAR

  1. assalamualaikum bib terima kasih atas ingatan dan nasihat pd kami yg byk dosa ini..dan ana sentiasa membuka laman bib yg byk membantu ana untuk memuasabah diri ana dan sahabat2 semua..disini ingin ana ucapkan Selamat Menyambut hari lebaran.minal aidil wafaiten..moga kite semua memdapat keberkatan dan diampuni dosa kite..ameen.

  2. Assalamualilaikum wr wb.

    Terima kasih telah membuat situs ini. Artikel artikel dakwahnya cukup bagus dan Insha Allah membawa manfaat.

    Wassalam.

    Ali Apriadi

  3. Assalamualaikum….. Jazakallah Ustadz tulisannya, sangat mencerahkan untuk saya yg sedang tahap awal belajar ” mengenal diri sendiri “…Wassalam

    NB. Kalau ada kontak yg bisa dihubungi, mohon info …syukron

LEAVE A REPLY