Khazanahalquran.com – Di zaman Rasulullah saw, ada seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Ia adalah budak milik Sayyidah Khodijah yang dihadiahkan kepada Rasulullah saw, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasul saw.

Ketika keluarganya mengetahui keberadaan Zaid, mereka segera datang kepada Nabi untuk membayar tebusan agar beliau mau mengembalikan anak mereka. Rasul pun bersabda, “Terserah padanya, biarkan ia memilih. Jika ia memilih kalian, bawalah tanpa perlu membayar tebusan.”

Kemudian beliau memanggil Zaid dan berkata kepadanya, “Wahai Zaid, mereka adalah keluargamu. Mereka datang dengan tebusan sementara aku tidak akan menerima tebusan dari siapapun. Jika kau ingin bersama mereka, ikutlah dan engkau telah bebas.”

Zaid memperhatikan keluarganya berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, aku tidak akan memilih selain Rasulullah saw selamanya !”

Keluarganya heran dan berkata, “Celaka engkau ! Apakah kau lebih memilih menjadi budak daripada hidup merdeka?”

Zaid menjawab, “Ketahuilah, sungguh disinilah kebebasan dan kemerdekaan itu, disamping Muhammad bin Abdillah. Jika aku ingin kemerdekaan, maka tak ada lain kecuali bersama Rasulullah. Adapun ikut bersama kalian itulah arti budak yang sebenarnya. Muhammad telah memberiku kebebasan, ketenangan hati dan keamanan. Ia juga telah mengajariku untuk hidup mulia dan terhormat.”

Sungguh kisah yang begitu menggugah hati. Semua budak memiliki impian yang sama yaitu bebas dan merdeka. Tapi tidak untuk Zaid bin Haritsah. Ia tetap memilih untuk menjadi budak Rasulullah saw. Karena disanalah ia menemukan arti kebebasan dan arti hidup mulia yang sebenarnya.

Dari kisah ini, semakin tampak kelembutan dan perangai mulia Rasulullah kepada orang-orang disekitarnya. Bagaimana beliau tidak membedakan budak dengan orang-orang merdeka. Hingga seorang budak lebih memilih bersamanya daripada hidup bebas namun harus terpisah darinya.

Sumber: Silsilah Rowa’iil Qashas

Komentar

LEAVE A REPLY