Arti Kebebasan Berpikir Menurut Islam

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Arti Kebebasan Berpikir Menurut Islam

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman :

وَٱلَّذِينَ ٱجۡتَنَبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ أَن يَعۡبُدُوهَا وَأَنَابُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ لَهُمُ ٱلۡبُشۡرَىٰۚ فَبَشِّرۡ عِبَادِ – ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan orang-orang yang menjauhi °agut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS.Az-Zumar:17)

Banyak agama dan aliran yang melarang para pengikutnya untuk menggunakan akal mereka dalam beragama. Mereka dilarang untuk membaca atau mengkaji kepercayaan lain bahkan dilarang untuk menyentuh buku-bukunya.

Semua itu didasari oleh ketakutan akan terpengaruh oleh pemahaman diluar kelompok tersebut. Argumentasi mereka begitu lemah sehingga bila pengikutnya membandingkan dengan argumentasi kelompok lain maka akan sangat berpotensi untuk meninggalkan kepercayaan itu dan memilih yang lainnya.

Berbeda dengan ajaran Islam yang hakiki. Ayat diatas dengan jelas membuka pintu pengkajian dan pembelajaran dari sumber manapun, bahkan Islam membebaskan pengikutnya untuk mempelajari semua ilmu.

Poin utamanya adalah bagaimana seseorang dapat memilah dan memilih mana yang terbaik. Karena Islam tidak pernah takut untuk berhadapan dengan pendapat lain karena argumentasi yang dimiliki sangat kuat.

Dari ayat diatas Islam memberi penghargaan bagi manusia yang mau mendengar semua ilmu dan bisa memilih yang terbaik untuk di ikuti.

Ayat diatas mengecam orang yang menutup mata dan telinga dari pendapat lain dan kemudian fanatik dengan apa yang ia pahami.

Dalam surat Nuh, Al-Qur’an menceritakan orang-orang dungu yang enggan mendengar pendapat lain selain pendapatnya.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوۡتُهُمۡ لِتَغۡفِرَ لَهُمۡ جَعَلُوٓاْ أَصَٰبِعَهُمۡ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَٱسۡتَغۡشَوۡاْ ثِيَابَهُمۡ وَأَصَرُّواْ وَٱسۡتَكۡبَرُواْ ٱسۡتِكۡبَارٗا

“Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.” (QS.Nuh:7)

Agama yang penuh dengan argumen yang kuat dan kokoh tidak pernah takut untuk berhadapan dengan argumen lainnya.

Bacalah semua buku, dengarlah semua pendapat namun akal lah yang dapat memilah mana yang terbaik.

Siapa orang yang berakal menurut Al-Qur’an?

Dia adalah seorang yang siap mendengar semua pendapat dan mampu memilih yang terbaik. Mereka lah orang yang mendapat petunjuk dari Allah swt. Seperti akhir dari ayat diatas :

وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Semoga bermanfaat.

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 210 pelanggan lain