Hartamu, Jabatanmu Bukan Bukti Allah Mencintaimu !

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Hartamu, Jabatanmu Bukan Bukti Allah Mencintaimu !

khazanahalquran.com – Kadang-kadang orang menganggap bahwa harta dan jabatan adalah bukti cinta Allah kepada seorang hamba. Bila ia kaya, bila jabatannya tinggi maka itu semua adalah tanda cinta Allah kepadanya.

Padalah Allah menyebutkan dalam firman-Nya,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ – نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.” (QS.Al-Mu’minun:55)

Tidak ! Tolok ukur kecintaan Allah bukanlah harta, Allah pun memberikan harta yang berlimpah kepada Qarun. Padahal Allah tidak mencintai Qarun.

Allah berikan kekuasaan pada Fir’aun, namun Allah tidak mencintai Fir’aun.

Lalu bagaimana menganalisa apakah Allah mencintai kita?

Bukti Allah mencintai kita adalah ketika harta yang kita miliki semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Bukti cinta Allah adalah ketika jabatan yang kita miliki mampu menjadi jembatan untuk meraih kerelaan-Nya.

Segala sesuatu yang kita miliki bila tidak menjadikan kita lebih dekat kepada Allah dan tidak menjadi bekal kita untuk menghadap kepada-Nya maka semua itu bukanlah bukti kecintaan Allah kepada kita. Bahkan itu adalah cobaan besar bagi diri kita.

Kenikmatan dan cinta Allah adalah ketika kita diberi hidayah, petunjuk dan taufik untuk senang beribadah dan suka berbuat baik.

Siapa yang berkata, “jika aku kaya maka aku akan mulia dan jika aku miskin maka aku hina”

Anggapan ini telah dijawab oleh Allah dalam Surat Hujurat bahwa kemuliaan dan kehinaan tidak ada sangkut pautnya dengan harta kita.

Kemuliaanmu adalah ketika engkau mendekat kepada Dzat yang paling mulia.

Kemuliaanmu adalah ketika engkau berlomba dalam kebaikan untuk menjadi yang paling dicintai-Nya.

Dan selain itu adalah kehinaan demi kehinaan yang akan berakhir dengan siksa. Karena itu seringkali Allah sebut siksaan itu dengan sebutan “siksaan yang menghinakan.”

عَذَابًا مُهِينًا

“Azab yang menghinakan.” (QS.An-Nisa’:37)

Semoga bermanfaat…

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 212 pelanggan lain