Inilah Tiga Sifat Para Robbaniyun Yang Setia Bersama Para Nabi !

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Inilah Tiga Sifat Para Robbaniyun Yang Setia Bersama Para Nabi !

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Ali ‘Imran:146)

Ayat ini menceritakan para pengikut setia para Nabi yang disebut (رِبِّيُّونَ). Kata ini diambil dari (ّرَب) yang artinya orang-orang yang berpegang teguh dengan Allah dan menghabiskan hidup mereka untuk berkhidmat di jalan Allah swt.

Hidup mereka selalu sejalan dengan yang di inginkan oleh Allah swt. Perbuatan, ucapan dan gerakan mereka selalu searah dengan ajaran suci yang dibawa oleh para Nabi. Intinya, mereka adalah para pengikut sejati para Nabi. Akhlak dan budi pekerti yang mereka tampilkan adalah akhlak Allah dan sikap mereka adalah gambaran dari ajaran suci Nabi.

Nah, dalam ayat diatas Allah swt menyebutkan tiga sifat yang disandang oleh Robbaniyun yang menggambarkan ketinggian derajat mereka di sisi Allah swt.

Apa saja tiga sifat tersebut?

Sifat Pertama : Musibah dan tantangan yang mereka hadapi dijalan kebenaran tidak mampu melemahkan jiwa mereka.

فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ

“Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah.”

Seringkali musibah dan kesulitan yang menimpa membuat jiwa seseorang menjadi lemah dan rapuh. Sedangkan berbagai macam rintangan dan musibah yang dialami oleh para Robbaniyun ini tidak menjadikan keyakinan mereka melemah dan tidak membuat kesabaran mereka memudar.

Langkah mereka kuat dan pasti karena sandaran mereka adalah kekuatan Allah swt. Apapun musibah yang menimpa tidak menggoyahkan akidah dan keyakinan mereka kepada Allah swt. Semakin dahsyat ujian yang menimpa di jalan kebenaran ini tidak membuat langkah mereka semakin lemah bahkan rintangan itu membuat keimanan mereka semakin kuat dan semakin kuat.

Sifat kedua : Rintangan dan kesulitan yang mereka hadapi tidak membuat fisik mereka menjadi lemah.

وَمَا ضَعُفُواْ

“Tidak patah semangat….”

Sifat pertama berbicara tentang kekuatan jiwa dan sifat kedua berbicara tentang kekuatan dan ketegaran fisik yang tidak bisa digoyahkan oleh datangnya masalah demi masalah.

Musuh tidak hanya ingin menghancurkan keyakinan dan jiwa mereka, tapi musuh juga menyerang fisik dan kehidupan materi dengan serangan fisik, boikot dan berbagai siksaan lainnya. Namun semua upaya ini tidak mampu melemahkan mereka, namun justru menjadi spirit yang menjadikan jiwa dan fisik mereka semakin kuat dalam menghadapi semua rintangan di jalan kebenaran.

Sifat Ketiga : Pantang menyerah kepada musuh.

وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ

“Dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh)…”

Para pengikut setia Nabi tidak kenal dengan kata menyerah. Mereka tidak akan tunduk dan menyerah dihadapan musuh karena mereka hanya tunduk dihadapan Allah swt.

Itulah kemuliaan diri yang tak tertandingi. Selama mereka berpegang kepada tali Allah maka tidak ada satu pun yang mereka takuti di dunia ini kecuali Allah swt. Mereka hanya mau tunduk dan pasrah dihadapan Sang Pencipta. Bukankah kemuliaan itu hanya milik Allah semata?

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah.” (QS.Fathir:10)

Dan bukankah Allah swt hanya memberikan kemuliaan itu kepada para Nabi dan kaum mukminin?

وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ

“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin.” (QS.Al-Munafiqun:8)

Itulah tiga sifat mulia yang disandang oleh para Rabbaniyun, yaitu orang-orang yang benar-benar setia bersama para Nabi. Segala masalah dan ujian yang mereka hadapi di jalan kebenaran tidak pernah menjadikan jiwa mereka lemah, putus asa dan menyerah dihadapan musuh.

Dan mereka hanya pasrah dan berdoa kepada Allah :

وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS.Ali ‘Imran:147)

Dengan kepasrahan, kesabaran dan doa inilah akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا وَحُسۡنَ ثَوَابِ ٱلۡأٓخِرَةِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.Ali Imran:148)

Semoga bermanfaat..

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 199 pelanggan lain