Inti Islam adalah Penyerahan Diri kepada Allah

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Inti Islam adalah Penyerahan Diri kepada Allah

khazanahalquran.com – Tidak diragukan lagi bahwa setiap manusia memiliki kebebasan berpikir dan memilih untuk kehidupan pribadinya. Tidak layak bagi kita untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada orang lain, karena kita sama-sama manusia. Dan sehebat apapun ia, masih bisa melakukan kesalahan.

Makna kata “Islam” adalah berserah diri. Ketika kita bergantung total pada sesuatu, akal kita pasti mengajak untuk tunduk dan pasrah kepada sesuatu tersebut. Karena kita tidak dapat bertahan sedetik pun tanpa “bantuan-Nya”.

Berserah diri kepada Allah adalah menyerahkan segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan kehendak-Nya. Karena tidak ada yang mengerti manusia melebihi Sang Pencipta.

Apalagi semua perintah dan larangan disiapkan demi kebaikan manusia. Tidak ada sedikitpun manfaat yang kembali pada-Nya.

Lalu apakah seorang yang ber-akal akan menentukan pilihannya dengan tangannya sendiri? Ataukah dia akan patuh pada Pencipta yang paling mengenal kebaikan bagi dirinya?

Lebih dari itu, semua yang kita miliki berasal dari-Nya. Semua yang kita raih adalah pemberian-Nya. Maka tanyakan kepada nurani kita masing-masing, pantaskah kita untuk tidak berserah diri kepada-Nya? Layakkah kita mengangkat dada dan menentukan pilihan diluar pilihan-Nya?

Berserah diri kepada Allah dan kepada Rasulullah saw sebagai penyambung manusia dengan Tuhannya adalah pilihan orang-orang yang berakal. Karena mereka sadar bahwa dirinya lemah dan tak berdaya. Maka jalan terbaik adalah bersandar pada Yang Maha Kuasa.

Al-Qur’an pun sering memberikan isyarat tentang perkara ini. Seperti dalam firman-Nya,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memberi keputusan di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.an-Nur:51)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (QS.a-Nisa’;
:125)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. (QS.al-Ahzab:36)

Kadar keimanan seseorang bergantung pada seberapa besar ia berserah diri kepada Allah swt. Inti agama adalah penyerahan diri, lalu seberapa besar kepasrahan kita kepada-Nya?

Semoga bermanfaat….

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 209 pelanggan lain