Makna “Itsar” (Mendahulukan Orang Lain) dalam Al-Qur’an

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Makna “Itsar” (Mendahulukan Orang Lain) dalam Al-Qur’an

khazanahalquran.com – Kata Al-Itsar dalam Al-Qur’an memiliki makna mengutamakan atau mendahulukan. Yakni mengutamakan sesuatu atas sesuatu yang lainnya.

Seperti contohnya kata ini digunakan dalam Surat Yusuf, tepatnya pada firman Allah swt :

قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” (QS.Yusuf:91)

Di ayat diatas kita menemukan kata melebihkan (mengutamakan).

Kemudian dalam ayat lainnya kata atsara ini juga digunakan dalam firman-Nya :

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا – وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ

“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS.Al-A’la:16-17)

Disana ada kalimat lebih memilih (mengutamakan atau mendahulukan).

Ayat-ayat diatas berbicara tentang mendahulukan sesuatu atas sesuatu yang lain. Nah, sekarang kita akan menyebutkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang makna Itsar yaitu lebih mengutamakan (mendahulukan) kebaikan untuk orang lain, padahal si pemiliki sedang membutuhkan hal itu.

Allah swt menceritakan bagaimana orang-orang Anshor lebih mengutamakan para sahabat Muhajirin daripada diri mereka sendiri.

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al-Hasyr:9)

Allah swt juga menceritakan keluarga kecil putri Nabi yang penuh berkah hingga kisah ini diabadikan didalam Al-Qur’an. Yaitu ketika mereka mendahulukan memberi makan orang miskin, anak yatim dan tawanan padahal keluarga mereka tidak memiliki apa-apa selain makanan tersebut.

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا – إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS.Al-Insan:8-9)

Disini kita melihat gambaran hati manusia yang begitu luar biasa. Kisah para sahabat Ansor yang dengan senang hati melayani para sahabat Muhajarin yang baru berhijrah ke Madinah dan kisah keluarga kecil putri Nabi yang mengutamakan memberi makan orang lain adalah sebuah contoh nyata dari Al-Itsar.

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara memunculkan kepekaan dan kepedulian ini hingga kita bisa dengan rela mengutamakan dan mendahulukan orang lain?

Semua itu bermula dari baik sangka kita kepada Allah swt. Dan keyakinan kita bahwa semua kebaikan itu pasti diganti oleh Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda di dunia maupun di akhirat.

Seseorang yang tujuan hidupnya adalah mendekat kepada Allah, pasti akan mengutamakan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Karena bagi mereka tidak ada yang lebih mahal dari keridoan Allah swt. Sehingga mereka akan melakukan apapun yang membuat Allah Ridho kepadanya.

Sayyidina Ali bin Abi tholib dalam pesan-pesannya menyebutkan bahwa Itsar (mendahulukan orang lain) itu muncul dari keyakinan dan keimanan yang tinggi.

Sayyidina Ali berpesan,

الإِيثَار أَحسَنُ الإِحسَان، وَ أَعلَى مَرَاتِبِ الإِيمَان

“Mengutamakan orang lain adalah kebaikan yang paling utama dan tingkat keimanan yang paling tinggi.”

الإِيثَار أَفضَلُ العِبَادَة وَأَجَلُّ سِيَادَة

“Mengutamakan orang lain adalah sebaik-baik ibadah dan semulia-mulianya kehormatan.”

Semoga bermanfaat.

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 210 pelanggan lain