Mengapa Allah Mengunci Hati Manusia?

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Mengapa Allah Mengunci Hati Manusia?

khazanahalquran.com – Allah Swt Berfirman :

بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (QS.An-Nisa’:155)

كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS.Ghafir:35)

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? (QS.al-Jatsiyah:23)

Semua ayat di atas menunjukkan bahwa sebab dari terkuncinya hati manusia adalah kekufuran, kesombongan, selalu mengikuti hawa nafsu dan perlawanan terhadap kebenaran. Dalam kondisi semacam ini sebenarnya manusia sedang melempar perbuatannya kepda dirinya sendiri.

Dalam kehidupan manusia, ketika seseorang melakukan sesuatu secara berulang akan menjadi sebuah “kebiasaan”. Dan jika dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah “karakter”, sehingga telah menjadi bagian dalam hidupnya bahkan seakan ia tidak bisa lepas darinya.

Begitulah ketika seseorang sering melakukan dosa maka hal itu akan menjadi kebiasaan dan jika dilakukan terus menerus akan menjadi karakter yang sulit sekali untuk terlepas darinya.

Sejak awal manusia punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Ketika ia terus memilih jalan yang menyimpang maka keburukan telah menjadi karakter dalam dirinya. Inilah yang disebut hatinya dikunci oleh Allah. Yaitu sebuah kondisi dimana keburukan telah menjadi karakter dalam diri seseorang sehingga sulit sekali baginya untuk keluar dari kondisi ini.

Terkuncinya hati adalah karena pilihannya sendiri sehingga ia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Sama persis seperti seorang yang menutup matanya dan menutup telinganya dengan sengaja agar ia tidak bisa mendengar dan melihat.

Semoga bermanfaat…

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 210 pelanggan lain