Nabi Musa As dan 40 Malam

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Nabi Musa As dan 40 Malam

khazanahalquran.com – Allah Swt Berfirman :

وَوَٰعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيۡلَةٗ وَأَتۡمَمۡنَٰهَا بِعَشۡرٖ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةٗۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS.Al-A’raf:142)

Ayat ini bercerita tentang Nabi Musa as ketika akan bermunajat dengan Allah Swt.

Sebenarnya waktu kepergian Nabi Musa as adalah 30 hari, namun Allah Swt menyempurnakannya hingga 40 hari.

Nah, dari kisah ini kita dapat mengambil banyak pelajaran berharga, antara lain :

(1). Ayat ini menggunakan kata Malam bukan menggunakan kata Hari.

“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).”

Mungkin kita bertanya-tanya mengapa menggunakan kata “malam” sementara  Nabi Musa as menetap di bukit Sina bukan hanya di malam hari saja, tapi siang-malam beliau berada disana.

Pemilihan kata ini tentu mengandung pesan dan makna yang tersirat di dalamnya. Digunakannya kata “malam” karena menceritakan saat-saat Nabi Musa as bermunajat dan waktu malam memiliki keutamaan yang lebih besar untuk bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Malam adalah waktu kita untuk berlepas dari semua kesibukan dan menyisihkan waktu untuk mendekat pada-Nya.

Malam adalah waktu yang sepi dan menenangkan sehingga pertemuan seorang hamba kepada Tuhannya di waktu ini menjadi lebih berkualitas.

Karenanya Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk selalu bangun di malam hari dan menjanjikan posisi yang amat tinggi dengan berkahnya amalan ini.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS.Al-Isra’:79)

Di ayat lain, Allah Swt mengabarkan tentang agungnya bangun untuk beribadah di malam hari.

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا

“Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (QS.Al-Muzzammil:6)

(2). Kemudian kita beranjak pada kalimat

ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي

“Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.”

Nabi Musa as hendak pergi untuk “berjumpa” dengan Allah namun hati dan pikirannya terus mengkhawatirkan umatnya. Perjalanan beliau ini sangat-sangat penting namun tetap saja pikiran beliau tidak bisa lepas dari memikirkan umatnya.

Dari sini kita dapat melihat hubungan antara ibadah, munajat, solat malam dengan kewajiban-kewajiban lainnya termasuk kepedulian kepada sesama. Maka sebenarnya ketika ibadah kita semakin dalam, maka hati kita akan menjadi lebih peka dengan kondisi sekitar.

Salah besar bila seseorang ingin fokus dengan ibadah dan meninggalkan kepedulian terhadap sesama !

Nabi Musa as adalah contoh nyata yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah dengan kepedulian antar sesama.

(3). Poin terakhir yang akan kita kutip adalah bahwa Nabi Musa as tau bahwa beliau akan pergi dengan waktu hanya 40 hari. Namun beliau tidak meninggalkan umat kecuali dengan menitipkannya kepada wakil beliau.

ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Nabi Musa As mengerti bahwa ada para perusak di tengah kaumnya. Dan wujud seorang Nabi adalah tameng yang menahan dan menjaga umat dari kerusakan. Karena keberadaan Nabi adalah Rahmat, maka meninggalkan umat tanpa ada pengganti yang jelas dan mumpuni adalah sebuah kesalahan besar yang akan membawa umat pada kehancuran yang cepat. Maka dari itu, walau hanya 40 hari Nabi Musa as telah menunjuk Harun As sebagai washi beliau.

Semoga Bermanfaat…

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 212 pelanggan lain