Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-13)

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Satu Bulan Bersama Al-Qur’an (Hari Ke-13)

khazanahalquran.com – Allah Swt Berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰائِف مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS.Al-A’raf:201)

Ayat ini bercerita tentang sikap hamba-hamba Allah yang bertakwa. Bahwa ketika mereka mendapat bisikan setan dan dibayang-bayangi oleh pikiran jahat, maka spontan mereka mengingat dahsyatnya siksa Allah dan agungnya pahala dari-Nya, sehingga mereka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Hamba yang bertakwa tau persis bahwa tiada yang bisa menyelamatkan mereka dari bisikan setan kecuali dengan kembali dan berlindung kepada Allah. Hanya dengan bantuan dan bimbingan Allah, seseorang mampu menghadapi dahsyatnya rayuan dan bisikan setan serta hawa nafsu.

Bila kita telusuri lebih jauh, ayat ini sangat berkait erat dengan ayat sebelumnya. Allah Swt Berfirman :

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٌ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS.Al-A’raf:200)

Ayat ini adalah sebuah penekanan bahwa satu-satunya jalan yang akan menyelamatkanmu dari bujuk rayu setan adalah berlindung kepada Allah Swt. Dan kebiasaan orang bertakwa adalah selalu sadar dan selalu meminta perlindungan kepada Allah dalam setiap kondisi dalam hidupnya.

Mari kita simak bagian-bagian dari ayat di atas lebih dekat.

(1) Kalimat :

إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓائِفٌ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ

“Apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan…”

Adalah isyarat bahwa setan berupaya untuk membuat kita lupa dengan “rasa takut” kepada Allah swt. Karena apabila kesadaran untuk takut kepada Allah ini “ditunda” sejenak saja maka ia tidak akan mampu melawan bisikan setan dan mudah untuk mengikuti rayuannya.

(2) Kalimat :

تَذَكَّرُواْ

“Mereka pun segera ingat kepada Allah…”

Namun orang-orang yang bertakwa segera ingat dengan peringatan-peringatan dari Allah dan akibat yang akan mereka dapatkan dari perbuatan dosa tersebut. Dan mereka lebih memilih untuk segera kembali dan meninggalkan semua kebusukan itu demi meraih pahala dari-Nya.

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya.” (QS.Ali ‘Imran:135)

(3) Kalimat :

فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ

“Maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)….”

Maka setelah mereka sadar, setan pun gagal menjerumuskannya ke dalam jurang kemaksiatan yang lebih dalam. Mereka pun selamat dan segera kembali kepada Allah swt.

Uniknya, kalimat مبصرون dalam ayat ini menggunakan bentuk Isim Fa’il dan bukan menggunakan bentuk Fi’i. Yang artinya kesadaran itu sebenarnya telah ada dalam diri mereka sebelumnya. Kesadaran ini bukan hal yang baru muncul ketika mereka hendak berbuat kesalahan. Orang-orang yang bertakwa selalu dalam kondisi sadar dan waspada atas bujuk rayu setan.

Lalu bagaimana seseorang bisa terjerumus dalam bujuk rayu setan? Tentunya semua itu karena ia meninggalkan dzikir dan mengingat Allah swt. Sehingga ia tidak memiliki benteng yang menyelamatkannya dari bisikan dan rayuan setan. Sehingga dengan mudah setan mengarahkannya menuju jalan yang ia kehendaki.

(4) Adapun kalimat :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa…”

Kalimat ini menujukkan bahwa kesadaran itu bersumber dari ketakwaan. Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin kuat benteng kesadaran yang ia miliki untuk melawan bisikan setan. Hati orang yang bertakwa selalu mengajak untuk berdzikir dan mengingat Allah swt. Sehingga apabila pada suatu saat ia lalai, maka dengan segera ia akan kembali dan memohon ampunan kepada Allah swt.

Semoga bermanfaat…

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 206 pelanggan lain