Syarat Diterimanya Amal Sholeh

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Syarat Diterimanya Amal Sholeh

khazanahalquran.com – Keselamatan seseorang di Akhirat sangat bergantung dengan Keimanan dan Amal Sholehnya. Allah swt berfirman,

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ – إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS.Al-‘Ashr:2)

Lalu apa syarat diterimanya amal sholeh seseorang?

1. Niat yang baik dan ikhlas.

Allah swt berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS.Al-Bayyinah:5)

Dalam sebuah riwayat yang masyhur, Rasulullah saw bersabda :

إِنَّمَا الأَعمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya dan bagi setiap orang memiliki niat masing-masing.”

(2) Ketakwaan kepada Allah swt.

Syarat kedua adalah hendaknya seseorang memiliki ketakwaan kepada Allah swt. Artinya dia memiliki rasa takut yang mencegahnya untuk berbuat dosa dan dorongan yang kuat dalam dirinya untuk melaksanakan perintah Allah swt dengan sebaik-baiknya.

Allah swt berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (QS.Al-Ma’idah:27)

(3) Menjalankan perintah sesuai dengan tata cara yang diridhoi Allah swt.

Salah satu syarat diterimanya sebuah amal adalah dengan melakukan amal itu sesuai dengan aturan dan tata cara yang diinginkan Allah swt. Karena seringkali manusia ingin berbuat amal yang baik namun ia menggunakan cara sesuai dengan kehendaknya sendiri sehingga amal tersebut menjadi sia-sia.

وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ

“Dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai.” (QS.An-Naml:19)

(4) Bergegas dan tidak menunda-nunda dalam melakukan kebaikan karena ini adalah sifat seorang mukmin.

أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ

“Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS.Al-Mu’minun:61)

(5) Tidak mengungkit sebuah kebaikan yang telah ia lakukan dan tidak menyakiti hati sang penerimanya.

Karena mengungkit dan menyakiti hati orang yang menerima kebaikan tersebut akan membatalkan amal kebaikan yang diperbuat.

Allah swt berfirman,

قَوۡلٌ مَّعۡرُوفٌ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٌ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.” (QS.Al-Baqarah:263)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS.Al-Baqarah:264)

(6) Menyempurnakan amal yang dilakukan.

Rasulullah saw besabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدٌ مِنكُم عَمَلًا أَن يُتقِنَهُ

“Sungguh Allah swt menyukai bila seseorang diantara kalian melakukan sebuah amal hendaknya disempurnakan.”

(7) Rutin dalam berbuat kebaikan.

Rasulullah saw bersabda,

أَحَبُّ الأَعمَالِ إلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَوَامَ عَلَيهِ العَبدُ وَإِن قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah azza wa jalla adalah amalan yang rutin walau sedikit.”

(8) Mendahulukan yang lebih prioritas.

Misalnya dalam sebuah wilayah sudah banyak dibangun Masjid, namun belum ada sekolah disana. Maka yang lebih prioritas adalah membangun sekolah yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak daripada membangun Masjid karena sudah tersedia di wilayah tersebut.

Poin tentang prioritas ini dapat kita ambil dari Sabda Rasulullah saw yang berbunyi,

لَا صَدَقَةَ، وَذُو رَحِمٍ مُحتَاج

“Tidak layak bersedekah bila ada keluarga dekat yang masih membutuhkan.”

Itulah beberapa syarat diterimanya amal sholeh dari beberapa ayat dan riwayat yang dapat kami kumpulkan. Tentunya masih banyak poin-poin lain yang belum tercantum dalam kajian ini.

Semoga bermanfaat..

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 209 pelanggan lain