Takwa dan Muhasabah Diri

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Takwa dan Muhasabah Diri

khazanahalquran.com – Allah swt berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Hasyr:18)

Dalam ayat ini Allah swt mengulang perintah takwa sebanyak dua kali.

Perintah takwa pertama disebutkan di awal ayat :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah”

Kemudian dilanjutkan dengan perintah untuk memperhatikan dan menimbang apa yang ia perbuat untuk “masa depannya”.

وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ

“Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

Dan kemudian disusul lagi dengan perintah untuk bertakwa.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Bila kita perhatikan, ayat ini menyimpan makna tersirat yang sangat indah. Perintah takwa pertama tentu berbeda dengan perintah takwa yang kedua, karena Al-Qur’an mustahil akan mengulangi sesuatu yang sama persis tanpa ada maksud dan makna dibaliknya.

Perintah takwa pertama adalah perintah untuk menjalankan seluruh perintah Allah swt dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Lalu kenapa perintah itu diulang lagi?

Karena perintah takwa yang kedua memiliki makna yang berbeda yaitu takwa dalam arti mengecek kembali keikhlasan dan kemurnian amal yang telah kita lakukan. Dalam arti lain makna takwa yang kedua adalah Muhasabah Diri.

Pada intinya, beramal saja tidak cukup. Setiap amal harus disertai dengan keikhlasan dan kemurniannya. Karena amal itu akan sia-sia bila niat yang mendasarinya bertolak belakang tujuan amal yang sebenarnya.

Dalam berbagai kesempatan kita sering menyebutkan bahwa manusia menjalani tiga step yang harus dijaga dalam beramal. Step pertama adalah menjaga niat, step kedua adalah menjaga amal itu dengan cara yang benar dan step terakhir adalah menjaga pahala amal itu dengan keikhlasan dan tanpa pamrih.

Karenanya kita melihat akhir dari ayat ini adalah :

إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Semoga bermanfaat…

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on google
Share on telegram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan ke Website via Email

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan artikel di website ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 206 pelanggan lain